Metode pratikum
karbohidrat uji fehling yaitu dengan langkah antara lain yaitu
menyiapkan 7 tabung reaksi, berturut – turut diisi 10 tetes larutan
laktosa, sukrosa, glukosa, fruktosa, kanji, madu, dan sirup 2%,
menambahkan 5 tetes fehling A dan 5 tetes fehling B pada masing – masing
tabung reaksi, selanjutnya digojog, menempatkan tabung reaksi tersebut
dalam penangas air mendidih selama 10 menit, kemudian amati dan catat
perubahan yang terjadi pada lembar pengamatan. Uji positif jika
terbentuk endapan merah bata.
Uji Fehling bertujuan untuk mengetahui adanya gugus aldehid.
Reagent yang digunakan dalam pengujian ini adalah Fehling A (CuSO4) dan
Fehling B (NaOH dan KNa tartarat).Reaksi yang
terjadi dalam uji fehling adalah :

Pemanasan
dalam reaksi ini bertujuan agar gugus aldehida pada sampel terbongkar
ikatannya dan dapat bereaksi dengan ion OH- membentuk asam karboksilat.
Cu2O (endapan merah bata) yang terbentuk merupakan hasil sampingan dari
reaksi pembentukan asam karboksilat.
Pereaksi Fehling
Pereaksi ini dapat direduksi oleh selain karbohidrat yang mempunyai
sifat mereduksijuga dapat direduksi oleh reduktor lain. Pereaksi Fehling
terdiri dari dua larutan yaitu Fehling A dan Fehling B. Larutan Fehling
A adalah CuSO4 dalam air, sedangkan Fehling B adalah larutan garam
KNatrat dan NaOH dalam air. Kedua macam larutan ini disimpan terpisah
dan baru dicampur menjelang digunakan untuk memeriksa suatu karbohidrat.
Dalam pereaksi ini ion Cu2+ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam
suasana basa akan diendapkan menjadi CuO2. Fehling B berfungsi mencegah
Cu2+ mengendap dalam suasana
UJI TOLLENSI. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aldehid dan keton merupakan dua dari sekian banyak contoh kelompok
senyawa organik yang mengandung gugus karbonil. Aldehid itu sendiri
merupakan salah satu senyawa karbon yang mengandung gugus karbonil
(-CO-), dimana satu tangan mengikat gugus alkil dan tangan yang lain
mengikat atom hidrogen. Sedangkan keton hampir sama dengan aldehid,
hanya saja pada keton kedua tangan atom karbon mengikat gugus alkil.
Struktur umum aldehid yaitu R-CHO.Struktur umum keton yaitu R-CO-R’.
Aldehid
dan keton banyak terdapat dalam sistem makhluk hidup.Seperti gula
ribosa dan hormon progesteron merupakan contoh dari aldehid dan keton.
Aldehid dan keton mempunyai bau yang khas, yang pada umumnya aldehid
berbau merangsang sedangkan keton berbau harum.
Aldehid dan keton
menyumbangkan manfaat yang cukup besar dalam kehidupan. Salah stu
contohnya yaitu metanal yang merupakan contoh dari senyawa aldehid.
Metanal ini lebih dikenal dengan nama formaldehida. Larutan formaldehida
40% digunakan sebagai antiseptik atau yang dikenal dengan sebutan
formalin. Sedangkan pada keton yang pailing banyak dikenal yaitu aseton
yang digunakan sebagai pelarut dan pembersih kaca. Oleh karena banyak
manfaatnya maka kita harus mampu membedakan mana senyawa keton dan
senyawa aldehid agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemanfaatannya.
B. Tujuan
Membedakan senyawa aldehid dan keton dengan menggunakan “Uji Tollen“
II. TINJAUAN PUSTAKA
Aldehid dan keton bereaksi dengan berbagai senyawa, tetapi pada umumnya
aldehid lebih reaktif dibanding keton. Kimiawan memanfaatkan kemudahan
oksidasi aldehid dengan mengembangkan beberapa uji untuk mendeteksi
gugus fungsi ini (Willbraham, 1992).
Uji Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk
membedakan mana yang termasuk senyawa aldehid dan mana yang termasuk
senyawa keton. Selain dengan menggunakan Uji Tollen untuk membedakan
senyawa aldehid dan keton dapat juga menggunakan Uji Fehling dan Uji
Benedict.
Aldehid lebih mudah dioksidasi dibanding keton. Oksidasi
aldehid menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama ( Hart,
1990). Hampir setiap reagensia yang mengoksidasi alkohol juga dapat
mengoksidasi suatu aldehid.
Pereaksi tollens, pengoksidasi
ringan yang digunakan dalam uji ini, adalah larutan basa dari perak
nitrat. Larutannya jernih dan tidak berwarna. Untuk mencegah pengendapan
ion perak sebagi oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa
tetes larutan amonia. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion
perak (Willbraham,1992).
Pereaksi Tollens sering disebut
sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3 dan amonia
berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi tollens adalh Ag2O yang bila
tereduksi akan menghasilakan endapan perak. Endapan perak ini akan
menempel pada tabung reaksi yang akn menjadi cermin perak. Oleh karena
itu Pereaksi Tollens sering juga disebut pereaksi cermin perak (Sudarmo,
2006).
Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat, ion
Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag. Uji positf
ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung
reaksi.Reaksi dengan pereaksi Tollens mampu mengubah ikatan C-H pada
aldehid menjadi ikatan C-O. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi
keton selanjutnya keton tidak dapat dioksidasi lagi dengan menggunakan
pereaksi Tollens. Hal ini disebabkan karena keton tidak mempunyai atom
hidrogen yang menempel pada atom karbon karbonil. Keton hanya dapat
dioksidasi dengan keadaan reaksi yang lebih keras dibandingkan dengan
aldehid. Ikatan antara karbon karbonil dan salah satu karbonnya putus,
memberikan hasil-hasil oksidasidengan jumlah atom karbon yang lebih
sedikit daripada bahan keton asalnya. Kekecualian adalah dalam oksidasi
keton siklik, karena jumlah atom karbonnya tetap sama. Misalnya,
sikloheksanon dioksidasi secar besar-besaran menjadi asam dipat, bahan
kimia pentinh dalam pembuatan Nylon.
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
· Pipet tetes
· Tabung reaksi
· Alat pemanas air
B. Bahan
· Larutan 10% NaOH
· Larutan 10% Ag NO3
· NH4OH
· Aquades
· Etanol 95%
· Asetaldehid
· Glukosa
· Aseton
· Fruktosa
· Air mendidih
IV. METODE KERJA
Ø Menambahkan 20 tetes larutan 10% NaOH ke dalam 20 tetes larutan 10% AgNO3.
Ø Kemudian menambahkan NH4OH tetes demi tetes sampai endapannya hilang. Maka inilah yang disebut dengan pereaksi tollens.
Ø
Melarutkan satu tetes sampel cair atau satu spatula sampel dalam
sedikit air atau etanol 95%. Sampel yang digunakan abtara lain :
· Asetaldehid
· Aseton
· Glukosa
· Fruktosa
Ø
Menambahkan sampel tetes demi tetes ke dalam pereaksi Tollens sambil
mengocok-ngocoknya kemudian mengamati endapan Ag yang terbentuk.
Ø Memanaskan tabung reaksi dalam air yang mendidih.
Ø Mengamati hasil atau perubahan yang terjadi.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
Larutan Warna Endapan
A 10% AgNO3 + 10% NaOH Keruh Ada
B Larutan A + NH4OH Bening Tidak ada
C Asetaldehid (sampel) + air Bening Tidak ada
D Larutan B + Larutan C Keruh Ada
E Larutan D dipanaskan Agak keruh (abu-abu), ada cermin perak pada dinding tabung reaksi Ada gelap
F Aseton (sampel) + air Bening Tidak ada
G Larutan B + Larutan F Bening Tidak ada
H Larutan G dipanaskan Keruh coklat kehitaman Tidak terbentuk cermin perak melainkan warna kehitaman
I Glukosa (sampel) + air Bening Tidak ada
J Larutan B + Larutan I Agak keruh Ada
K Larutan J dipanaskan Keruh abu-abu Ada endapan dan cermin perak
L Fructosa (sampel) + air Bening Tidak ada
M Larutan B + Larutan L Keruh coklat kehitaman Ada
N Larutan M dipanaskan Keruh coklat Ada endapan warna perak
B. Pembahasan
Hal yang membedakan Aldehid dengan keton yaitu kemampuan kedua senyawa
ini apabila dioksidasi. Aldehid hádala larutan yang mudah sekali
dioksidasi dengan menggunaknan Uji Tollens, sedangkan Keton tidak. Sifat
inilah yang dimanfaatkan untuk dapat membedakan Aldehid dengan Keton.
Apabila statu sampel direaksikan dengan pereaksi tollens kemudian
dipanaskan dan muncul endapan cermin perak pada dinding tabung reaksi
maka dapat dikatakan bahwa sampel itu merupakan salah satu dari senyawa
aldehid.
Pada praktikum kali ini menggunakan empat jenis
sampel yang diuji apakah dia termasuk ke dalam senyawa aldehid atau
senyawa keton. Sampel-sampel tersebut antara lain asetaldehid, aseton,
glucosa, dan fructosa.
Pada percobaan terhadap asetaldehid mula-mula ditambah dengan air,
warnanya tetap bening dan tidak ada endapan sama sekali pada dasar
tabung reaksinya. Kemudian ditambahkan dengan pereaksi tollens, maka
terjadi perubahan. Warna larutan menjadi keruh dan munculnya endapan.
Lalu larutan ini dipanaskan, dan terjadi perubahan yaitu warna larutan
agak keruh abu-abu dan timbal cermin perak pada dinding tabung. Warna
larutan berubah menjadi gelap. Dengan munculnya cermin perak pada
dinding tabung reaksi pada percobaan kali ini maka dapat dinyatakan
bahwa asetaldehid merupakan salah satu contoh dari senyawa aldehid.
Selanjutnya menggunakan sampel kedua yaitu aseton. Aseton
ditambahkan dengan air, warna bening dan tidak terbentuk endapan.
Kemudian ditambahkan pereaksi tollens, tidak terjadi perubahan. Warna
tetap bening dan tidak terbentuk endapan. Kemudian larutan ini
dipanaskan, warna larutan menjadi keruh coklat kehitaman dan tidak
terbentuk cermin perak melainkan terbentuk endapan warna kehitaman. Dari
pengamatan ini dapat dinyatakan bahwa aseton bukan merupakan salah satu
senyawa aldehid, tetapi aseton merupakan senyawa keton.
Sampel berikutnya yaitu glucosa. Telah diketahui bahwa
glukosa merupakan salah satu karbohidrat monosakarida yang merupakan
sumber energi bagi makhluk hidup. Glukosa pada praktikum kali ini
ditambahkan dengan air, warna bening dan tidak terbentuk endapan.
Kemudian glukosa ditambahkan dengan pereaksi tollens, terjadi perubahan
yaitu pada warna menjadi agak keruh dan ada endapannya. Kemudian larutan
ini dipanaskan dan warna berubah menjadi keruh abu-abu, dan
terbentuknya endapan cermin perak pada dinidng tabung reaksi.
Terdapatnya cermin perak ini membuktikan bahwa glukosa merupakan salah
satu dari senyawa aldehid.
Sampel tang terakhir yaitu
fruktosa. Sama dengan glukosa, fruktosa juga merupakan salah satu jenis
karbohidrat monosakarida. Apabila fruktosa ditambahkan dengan air warna
yang terjadi tetap bening dan tidak ada endapan. Kemudian ditambahkan
dengan pereaksi tollens maka warna berubah menjadi keruh coklat
kehitaman dan terdapat endapan. Kemudian larutan ini dipanaskan maka
warna menjadi keruh coklat dan terbentuklah endapan cermin perak pada
dinding tabung reaksi. Jadi sama seperti glukosa, fruktosa juga
merupakan salah satu senyawa aldehid.
Dari keempat sampel
yang digunakan, yang bukan senyawa aldehid melainkan keton adalah
Aseton. Ketiga larutan yaitu asetaldehid, glukosa, dan fruktosa termasuk
ke dalam senyawa aldehid. Aseton tidak dapat membentuk cerminperak
karena aseton tidak mempunyai atom hidrogen yang terikat pada gugus
karbon. Kedua tangan gugus karbonnya sudah mengikat dua gugus alkil
sehingga aseton tidak mengalami oksidasi ketika ditambah pereaksi
tollens dan dipanaskan. Pada asetaldehid, glukosa dan fruktosa oksidasi
terjadi denagn mudah karena ketiganya lebih reaktif.
VI. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan
menggunakan uji tollens ternyata mudah untuk membedakan mana senyawa
aldehid dan keton. Suatu sampel dapat dikatakan sebagai aldehid apabila
direaksikan dengan pereaksi tollens kemudian dipanaskan akan terbentuk
cermin perak pada dinding tabung reaksinya. Sedangkan sampel dapat
dikatakan bahwa ia merupakn senyawa keton apabila terjadi reaksi negatif
pada saat ditambah pereaksi tollens dan dipanaskan. Sampel ini tidak
akan menunjukkan adanya cerminperak pada dinidng tabung.
B. Saran
Dalam
percobaan-percobaan berikutnya sebaiknya menggunakan sampel lain yang
lebih berbeda. Praktikan sebaiknya dapat mendeskripsikan hasil perubahan
ynag terjadi dari percobaan secara lebih jales lagi.
UJI IODIUMKarbohidrat
golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodin dan
memberikan warna spesifik bergantung pada jenis karbohidratnya. Amilosa
dengan iodin akan berwarna biru; Amilopektin dengan iodin akan berwarna
merah violet; glikogen maupun dekxtrin dengan iodin akan berwarna merah
coklat.
Gula Sebelum dan Sesudah Invert Gula
Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi
dan merupakan oligosakarida, polimer dengan derajat polimerisasi 2-10
dan biasanya bersifat larut dalam air yang terdiri dari dua molekul
yaitu glukosa dan fruktosa. Gula memberikan flavor dan warna melalui
reaksi browning secara non enzimatis pada berbagai jenis makanan. Gula
paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula
digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau
minuman. Dalam industri pangan, sukrosa diperoleh dari bit atau tebu
(Winarno 1997).
Gula Invert Gula invert adalah
Sebuah campuran bagian yang sama dari glukosa dan fruktosa yang
dihasilkan dari hidrolisis sukrosa. Hal ini ditemukan secara alami dalam
buah-buahan dan madu dan diproduksi secara buatan untuk digunakan dalam
industri makanan. Dibandingkan dengan prekursor, sukrosa, gula invert
lebih manis dan produk-produknya cenderung tetap lembab dan kurang
rentan terhadap kristalisasi. Oleh karena itu dipakai oleh tukang roti ,
yang mengacu pada sirup sebagai atau sirup invert trimoline.
Campuran glukosa dan fruktosa yang diproduksi oleh hidrolisis sukrosa,
1,3 kali lebih manis daripada sukrosa. Disebut demikian karena aktivitas
optik terbalik dalam proses. Hal ini penting dalam pembuatan kembang
gula, dan terutama permen direbus , sejak kehadiran 10-15% gula invert
maka dapat mencegah kristalisasi sukrosa.
Dalam istilah
teknis, sukrosa adalah disakarida , yang berarti bahwa itu adalah
molekul yang berasal dari dua gula sederhana monosakarida. Dalam kasus
sukrosa, monosakarida blok bangunan ini adalah fruktosa dan glukosa.
Pemecahan sukrosa adalah reaksi hidrolisis . hidrolisis dapat diinduksi
hanya dengan pemanasan larutan sukrosa, tetapi lebih umum, katalis
ditambahkan untuk mempercepat konversi. Secara biologis katalis yang
ditambahkan disebut sucrases (pada hewan) dan invertases (pada
tumbuhan). Sucrases dan invertases adalah jenis hidrolase glikosida
enzim. Acid , seperti terjadi di jus lemon atau cream of tartar , juga
mempercepat konversi sukrosa untuk membalikkan.
Gula
invert dibuat dengan menggabungkan suatu sirup gula dengan sedikit asam
(seperti cream of tartar atau jus lemon) dan pemanasan. Ini membalik,
atau rusak, maka sukrosa menjadi dua komponen, glukosa dan fruktosa ,
sehingga mengurangi ukuran kristal gula. Karena struktur kristal halus,
gula inversi menghasilkan produk yang lebih halus dan digunakan dalam
membuat permen seperti fondant , dan beberapa sirup. Proses pembuatan
selai dan jeli otomatis menghasilkan invert gula dengan menggabungkan
asam alami dalam buah dengan gula pasir dan pemanasan campuran. Invert
sugar can usually be found in jars in cake-decorating supply shops. Gula
invert biasanya dapat ditemukan dalam stoples di toko-toko pasokan
kue-dekorasi.
Dalam istilah teknis, sukrosa adalah
disakarida, yang berarti bahwa itu adalah molekul yang berasal dari dua
gula sederhana monosakarida. Dalam kasus sukrosa, monosakarida blok
bangunan ini adalah fruktosa dan glukosa. The hidrolisis dapat diinduksi
hanya dengan pemanasan larutan sukrosa, tetapi lebih umum, katalis
ditambahkan untuk mempercepat konversi. Secara biologis katalis yang
ditambahkan disebut sucrases (pada hewan) dan invertases (pada
tumbuhan). Sucrases dan invertases adalah jenis hidrolase glikosida
enzim. Acid , seperti terjadi di jus lemon atau cream of tartar , juga
mempercepat konversi sukrosa untuk membalikkan.
Reaksi kimia inversi Istilah ' invert ' berasal dari
metode pengukuran konsentrasi sirup gula dengan menggunakan polarimeter .
Plane terpolarisasi cahaya , ketika melewati sebuah sampel larutan
sukrosa murni, diputar ke (kanan rotasi optik ). Sebagai solusinya
adalah diubah menjadi campuran sukrosa, fruktosa dan glukosa, jumlah
rotasi berkurang sampai (dalam larutan sepenuhnya dikonversi) arah
putaran telah diubah (terbalik) dari kanan ke kiri.
C 12 H 22 O
11 (sucrose, Specific rotation = +66.5°) + H 2 O ( water , no rotation) →
C 6 H 12 O 6 (glucose, Specific rotation = +52.7°) + C 6 H 12 O 6
(fructose, Specific rotation = -92°) C 12 H 22 O 11 (sukrosa, rotasi
Tertentu = 66,5 °) + H 2 O ( air , tidak ada rotasi) → C 6 H 12 O 6
(glukosa, rotasi Tertentu = 52,7 °) + C 6 H 12 O 6 (fruktosa, rotasi
Tertentu = -92 °)
net: +66.5° converts to -39° bersih: 66,5 ° mengkonversi ke -39 °
Hidrolisis adalah reaksi kimia di mana molekul rusak dengan penambahan
air. Hidrolisis sukrosa menghasilkan glukosa dan fruktosa sekitar 85%,
suhu reaksi dapat dipertahankan pada 50-60 ° C (122-140 ° F).
Sirup gula Inverted dapat dengan mudah dibuat dengan menambahkan
sekitar satu gram asam sitrat atau asam askorbat , per kilogram gula.
Cream of tartar (satu gram per kilogram) atau segar lemon jus (10
mililiter per kilogram) juga dapat digunakan.
Campuran
direbus selama 20 menit, dan akan mengkonversi cukup dari sukrosa untuk
secara efektif mencegah kristalisasi, tanpa memberikan rasa terasa asam.
Balikkan sirup gula juga dapat dihasilkan tanpa menggunakan asam atau
enzim dengan cara termal saja: dua bagian pasir sukrosa dan satu bagian
air direbus selama lima sampai tujuh menit akan mengkonversi sebagian
sederhana untuk membalikkan gula.
Semua sirup gula invert diciptakan
dari hydrolysing sukrosa menjadi glukosa ( dekstrosa ) dan fruktosa
dengan memanaskan larutan sukrosa, kemudian mengandalkan waktu saja,
dengan katalitik sifat asam atau enzim digunakan untuk mempercepat
reaksi. Komersial larutan asam disusun katalis dan dinetralkan ketika
tingkat inversi yang diinginkan tercapai.
Daya simpan gula
invert memiliki kadar air lebih rendah dari pada sukrosa sehingga daya
simpan produk yang menggunakan gula invert sebagai bahan baku, lebih
lama.
Daya simpan gula invert parsial adalah sekitar enam bulan,
tergantung pada penyimpanan dan kondisi iklim. solusi inversi gula
Crystallised mungkin dikembalikan ke keadaan cair mereka dengan lembut
pemanasan.
Contoh:
* Gula-gula
* Madu adalah campuran
(terutama) dari glukosa dan fruktosa, memberikan sifat yang mirip dengan
sirup invert. Ini memberi kemampuan untuk tetap cair untuk jangka waktu
yang lama.
* Jam, ketika dibuat, memproduksi gula invert selama pemanasan yang ekstensif di bawah aksi asam dalam buah.
* Sirup Golden adalah sirup sirup 56% invert sekitar, 44% sukrosa
*
Fondant untuk mengisi cokelat adalah unik dalam bahwa enzim konversi
ditambahkan, namun tidak diaktifkan sebelum pengisian enrobed dengan
coklat.Sangat kental (dan dengan demikian formable) mengisi kemudian
menjadi kurang kental dengan waktu, memberikan konsistensi kental yang
diinginkan.
Luff Schoorl Penentuan kadar glukosa dilakukan dengan cara
menganalisis sampel melalui pendekatan proksimat. Terdapat beberapa
jenis metode yang dapat dilakukan untuk menentukan kadar gula dalam
suatu sampel. Salah satu metode yang paling mudah pelaksanaannya dan
tidak memerlukan biaya mahal adalah metode Luff Schoorl. Metode Luff
Schoorl merupakan metode yang digunakan untuk menentukan kandungan gula
dalam sampel. Metode ini didasarkan pada pengurangan ion tembaga (II) di
media alkaline oleh gula dan kemudian kembali menjadi sisa tembaga. Ion
tembaga (II) yang diperoleh dari tembaga (II) sulfat dengan sodium
karbonat di sisa alkaline pH 9,3-9,4 dapat ditetapkan dengan metode ini.
Pembentukan (II)-hidroksin dalam alkaline dimaksudkan untuk menghindari
asam sitrun dengan penambahan kompleksierungsmittel. Hasilnya, ion
tembaga (II) akan larut menjadi tembaga (I) iodide berkurang dan juga
oksidasi iod menjadi yodium. Hasil akhirnya didapatkan yodium dari hasil
titrasi dengan sodium hidroksida (Anonim 2010).
Gula PereduksiGula
pereduksi yaitu monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dapat
ditunjukkan dengan pereaksi Fehling atau Benedict menghasilkan endapan
merah bata (Cu2O). selain pereaksi Benedict dan Fehling, gula pereduksi
juga bereaksi positif dengan pereaksi Tollens (Apriyanto et al 1989).
Penentuan gula pereduksi selama ini dilakukan dengan metode pengukuran
konvensional seperti metode osmometri, polarimetri, dan refraktrometri
maupun berdasarkan reaksi gugus fungsional dari senyawa sakarida
tersebut (seperti metode Luff-Schoorl, Seliwanoff, Nelson-Somogyi dan
lain-lain). Hasil analisisnya adalah kadar gula pereduksi total dan
tidak dapat menentukan gula pereduksi secara individual. Untuk
menganalisis kadar masing-masing dari gula pereduksi penyusun madu dapat
dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCTK). Metode ini mempunyai beberapa keuntungan antara lain dapat
digunakan pada senyawa dengan bobot molekul besar dan dapat dipakai
untuk senyawa yang tidak tahan panas (Gritter et al 1991 dalam Swantara
1995).
Alkalis. Dengan larutan glukosa 1%, peraksi Fehling
menghasilkan endapan berwarna merah bata, sedangkan apabila digunakan
larutan yang lebih encer misalnya larutan glukosa 0,1% endapan yang
terjadi berwarna hijau kekuningan. (McGilvery@Goldstein, 1996).